Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang – Bagi sebagian orang, air mungkin begitu sederhana. Tinggal membuka keran, mengisi gelas, atau menyalakan pompa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di tengah musim kemarau, keadaan bisa berubah. Air yang biasanya mudah didapat tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus dicari. Sumur mulai surut, sumber air mengecil, sementara kebutuhan keluarga tidak pernah berhenti.
Di tengah situasi tersebut, pada 16 September 2026, kader DPC PKS Sumbermanjing Wetan hadir melalui kegiatan “Berbagi Air Kehidupan Bersama PKS”. Kegiatan distribusi air bersih ini disaksikan dan didampingi oleh perangkat desa setempat. Kehadiran perangkat desa sekaligus menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat membutuhkan kerja bersama – antara pemerintah, masyarakat, organisasi sosial, relawan, komunitas dan berbagai elemen yang memiliki kepedulian.
Hari itu, yang dibagikan memang air.
Tetapi yang diterima warga sesungguhnya lebih dari sekadar air. Ada rasa lega. Ada kebutuhan rumah tangga yang untuk sementara dapat terpenuhi. Ada kekhawatiran yang sedikit berkurang ketika tandon dan jeriken kembali terisi.
Ketika air menjadi begitu berharga
Kekeringan yang terjadi di Kabupaten Malang pada September 2026 telah berdampak pada sejumlah wilayah, terutama kawasan selatan. Data penanganan BPBD Kabupaten Malang menunjukkan krisis air bersih telah terjadi di sejumlah desa dan kecamatan. Hingga pertengahan September, distribusi air bersih telah dilakukan untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air. Sumbermanjing Wetan termasuk wilayah yang terdampak.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari karakter musim kemarau tahun ini. Berdasarkan prakiraan BMKG, sejumlah wilayah Kabupaten Malang mengalami musim kemarau dengan curah hujan yang cenderung rendah, sementara bagian selatan Kabupaten Malang termasuk kawasan yang mengalami puncak kemarau sekitar September.
Ketika hujan jarang turun, cadangan air tanah perlahan berkurang. Mata air dan sumur yang selama ini menjadi tumpuan warga pun mengalami penurunan debit. Pada titik tertentu, persoalannya bukan lagi sekadar tanah yang kering. Tetapi bagaimana sebuah keluarga mendapatkan air untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Air yang menghubungkan kepedulian
Kegiatan “Berbagi Air Kehidupan Bersama PKS” hadir dalam ruang sederhana itu. Tidak ada yang lebih penting pada hari tersebut selain memastikan air sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Kader bergerak. Perangkat desa mendampingi. Masyarakat menerima dan mengatur distribusi di lingkungan masing-masing. Sebuah bentuk gotong royong yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki makna besar ketika kebutuhan yang dibantu adalah kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat.
Sebab menghadapi kekeringan tidak mungkin hanya mengandalkan satu pihak. Pemerintah mempunyai tanggung jawab dalam penyediaan layanan dasar dan penanganan kebencanaan. Pemerintah desa memiliki peran penting karena paling dekat dengan warga. Sementara organisasi masyarakat, komunitas, relawan, dunia usaha dan masyarakat luas dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Semua bersinergi untuk satu tujuan: memastikan masyarakat tidak sendirian menghadapi kesulitan.
Jangan berhenti ketika hujan kembali datang
Namun ada satu hal yang perlu kita pikirkan bersama. Droping air adalah solusi penting dalam keadaan darurat. Tetapi ia tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban setiap kali musim kemarau datang. Sebab setelah truk tangki meninggalkan lokasi, persoalan yang lebih besar masih menunggu. Bagaimana memastikan air tetap tersedia ketika kemarau berikutnya datang?
Pertanyaan inilah yang semestinya mulai kita jawab bersama. Desa-desa yang berulang kali mengalami kekeringan membutuhkan langkah jangka panjang. Pemetaan sumber air, pembangunan tandon komunal, jaringan pipanisasi, pengembangan sumber air alternatif, embung, serta sistem pemanenan air hujan dapat menjadi bagian dari solusi.
Begitu pula dengan menjaga kawasan resapan dan daerah tangkapan air. Ketika musim hujan tiba, air tidak semestinya hanya dibiarkan mengalir dan kemudian hilang. Sebagian harus ditangkap, disimpan dan dikelola sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau. Karena ketahanan air bukan dibangun ketika sumur sudah kering. Ketahanan air dibangun jauh sebelum kemarau datang.
Dari Sumbermanjing Wetan untuk masa depan
Pada akhirnya, “Berbagi Air Kehidupan Bersama PKS” bukan hanya tentang distribusi air pada 16 September 2026. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah persoalan lingkungan dan perubahan pola musim, kepedulian sosial tetap menjadi kekuatan penting masyarakat.
Hari itu mungkin kita membantu mengisi sebuah tandon. Besok mungkin kita bersama-sama membangun sistem air yang lebih permanen. Hari itu kita berbagi air. Besok kita perlu berbagi gagasan, tenaga dan tanggung jawab untuk menjaga sumber-sumber air.
Karena setiap tetes air memiliki cerita. Di dalamnya ada kehidupan, keluarga, kesehatan, pekerjaan dan harapan. Dan ketika sebuah desa menghadapi kekeringan, yang dibutuhkan bukan hanya siapa yang datang membawa air, tetapi bagaimana kita semua hadir untuk mencari solusi agar air tetap ada.
Berbagi air hari ini adalah bentuk kepedulian.
Menjaga sumber air untuk hari esok adalah tanggung jawab kita bersama.